0

Pesan dari Hasan al Banna untukmu wahai Pemuda Penerus Perjuangan

Wahai ANGKATAN BARU!

Siapkanlah dirimu untuk menggantikan angkatan tua, mereka akan pulang tak lama lagi. Janganlah engkau menjadi pemuda kecapi suling, yang bersenandung meratapi tepian yang sudah runtuh, mengenangkan masa silam yang telah pergi jauh. Janganlah engkau membuat kekeliruan lagi seperti pernah dilakukan oleh angkatan yang engkau gantikan.

Teruskan perjalanan ini dengan tenaga dan kakimu sendiri. Dada bumi cukup luas untuk menerima kehadiranmu. Penuhilah segenap udara ini dengan kegiatan dan ketekunan, sungguh dan penuh. Hadapilah tugas mahaberat ini dengan jiwa besar, dengan dayajuang api semangat yang nyalanya kuat dan keras. Pupuklah Ruhul-Jihad, semangat revolusioner, radikal dan progressif dalam jiwamu, dan bertindaklah sebagai laki-laki dengan perhitungan yang nyata dan pertimbangan yang matang.

Perkayalah dirimu dengan meneladan kepada masa silam, di mana ada yang rebah dan ada yang bangun, ada yang jatuh dan terus berdiri lagi. Kamu tidak boleh menjadi “plagiator” dari angkatan lama, dan tidak boleh pula menepuk dada serta meniadakan segala harga dan nilai, jasa dan karya dari angkatan lama. Mereka kaya dengan pengalaman, engkau kaya dengan cita-cita. Padukanlah pengalaman angkatan lama dengan nyala citamu! Sejarah ini telah lama berjalan bergerak dan berkembang.

Kamu hanyalah tenaga penyambung menyelesaikan perjuangan yang belum selesai. Meneruskan pekerjaan besar, sundut bersundut, dan keturunan yang satu kepada keturunan yang lain, angkatan kemudian angkatan. Kafilah hidup ini adalah ibarat gelombang di lautan; menghempas yang satu, menyusul yang lain; memecah yang pertama datang yang kedua.

Sedarilah posisi dan fungsimu dalam sejarah, dan lakukanlah tugas suci ini dengan pengertian, keyakinan dan kesabaran! Insafilah kedaulatanmu sebagai Pemuda Angkatan Baru, yang hendak menggantikan manusia tua angkatan lama. Tidaklah sama dan serupa antara kedua angkatan zaman itu, kerana sejarah berjalan sentiasa menurut hukum dinamika dan hukum dialektika.

 

 

Kobaran api puitis dari sang Guru memberikan semangat untuk langkah yang baru, jangan padamkan nyalanya jika kau tak sanggup mendekatinya.

Jiwa yang hatinya telah terpaut pada perjuangan, dia tidak akan terhenti dengan alasan apapun. Biarkan aral rintang menghadang akan tetapi jiwa tetap terpasang hingga nafas tiba pada peristirahatannya.

Wahai mujahid muda…

0

Bersabar seperti Umar Bin Khattab

Siang itu mentari sedang terik dan berada tepat diatas kepala, Sahabat Umar bin Khattab sedang sibuk menjahit pakaiannya yang sobek. Sementara istri beliau sedang marah dan ngomel-ngomel (istilah kita mah). Tapi dia tetap diam, saat itu ada pula sahabat yang datang ke rumah nya sekedar meminta nasihat. Namun apa yang dilihatnya mengurungkan nya untuk melanjutkan niatnya.

Ketika sahabat tadi bertemu dengan Umar pada kesempatan yang lain, dia bertanya. “Wahai Ammirul Mukminin, kenapa engkau diam saja ketika istrimu marah, dia sudah berbuat yang keterlaluan terhadapmu.” Dengan tenang Umar menjawab, “Wahai sahabatku, istriku adalah orang yang berjasa dalam hidupku, dia yang melahirkan anak-anakku dengan segala kesusahan dan kesakitan. Dia yang mengurus keperluanku dan anak-anakku, setiap hari keringatnya bercucuran untuk kami. Kalau hanya sekedar ngomel, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengorbanannya” kata Umar dengan mata berkaca-kaca. sumber ; https://www.ummi-online.com/toleransi-terhadap-pasangan-adalah-resep-keluarga-harmonis-umar-bin-khattab/

Ya Ampun meleleh nggak sich, dengar perkataan Umar yang begitu pengertian terhadap istrinya?

Wanita itu memang yah, kalau lagi marah ngomel biarin aja biar sampai puas. Nanti kalau sudah puas ngomelnya juga reda sendiri, dan suami memang harus tetap sabar.  Nah ujiannya adalah kalau keduanya nggk bisa saling fahami ya udin deh.

Bersyukurlah mendapatkan suami yang penyabar, dia bersabar karena rasa kasih sayangnya kepada istri.

Sabar,,,yukk sabarrr…

 

 

 

0

Seorang Ibu itu…

Kebahagiaan rumah tangga adalah tergantung bagaimana sang Istri atau Ibu mengelola pribadinya, bukan tanpa bantuan suami justru suami adalah orang yang sangat berperan didalamnya.

Kondisi istri yang full at home or no, sama memiliki peran yang berat. Tidak bisa dibilang wanita yang bekerja di luar rumahnya adalah wanita yang egois, memikirkan hanya dengan nilai rupiah saja sementara anak terlantar di rumahnya sendirian. Atau yang full mom di rumah akan memberikan efek maksimal dan pendidikan terbaik untuk anaknya. Semua tergantung akan apa yang mereka niatkan dan usahakan, ada kebaikan dan keburukan dididalamnya.

Bagaimana mungkin ada seorang Ibu yang rela dan tega berlaku demikian, kondisi yang diciptakan Ibu bekerja pasti memiliki tujuan yang penting. Bukan pula Istri menjadi tidak bersyukur dengan apa yang suami berikan, tetapi ini lebih kepada bagaimana istri tetap menjadi Ibu dan berperan sebagai Istri dalam rumah tangganya dengan bertambahnya tugas membantu menyokong suami dalam mencari nafkah. Bisa disebut ini dengan tantangan. Karena tidak semua yang mampu dan mau.

Apakah kita masih menilai seseorang hanya yang tertampak diluarnya, tanpa memandang kondisi mereka sebenarnya seperti apa. Ah,,,sudahlah kita adalah masyarakat yang kental budaya keingintahuan dan perhatian, sehingga terkadang urusan orang lain kitapun menjadi komentatornya dan pemerhati tanpa empati. Oh miris, istilahnya mah Julid.

Rasanya ingin kita semua berfikir lebih terbuka dengan tidak menghakimi keputusan yang terjadi dalam rumah tangga siapapun, selagi mereka mengurus semua keperluannya dengan  baik  itu cukup, tidak perlu membesar-besarkan mana yang perlu mereka putuskan atau tidak.

Ah kita kembali ke topik yaahh…

Jadi sebenarnya Ibu itulah yang dituntut dengan begitu banyak peran, hai Ibu kau pasti kuatkan? dan kau mampu untuk melakukan semuanya dengan baik!.

Kalau begitu jangan hiraukan perkataan mereka selagi kau masih berada dalam koridor yang  benar, tidak ada yang salah ketika sudah melakukan semuanya dengan baik dan maksimal, lakukan apapun yang terbaik untuk keluargamu tanpa memperdulikan cibiran yang menjatuhkan. Buang semua energi negatif dari orang-orang yang hanya pandai berkomentar tanpa membantu, setuju?!.

Kebahagian keluargamu, suami dan anak-anak adalah tergantung kondisi hatimu, Ibu tetaplah menjadi yang terbaik meskipun kondisi dan waktu menjadikanmu seperti apa yang mereka  mau. Ibu, kau tidaklah lemah dengan segala  terpaan yang ada justru itu adalah penguatmu menjadi wanita yang tangguh seutuhnya.

Untuk para Ibu di rumah, Kau tahu menjadimu kami sadar betul itu adalah kodrat nya, fitrahnya. Jadi seberat dan sesulit apapun jalannya kau pasti mampu, karena Allah telah mengukur kemampuanmu sejak kau diciptakan-Nya. Teruslah beroptimis dan berfikir positif, karena anak-anakmu kelak akan mewarisi sebagian sikap dan menjadi penerus amalanmu di dunia.

 

 

Jakarta, 19 September 2018

Masjid Salahudin Kantor Pajak Pusat

0

Charger full ruhiahnya, maka ia qona’ah

Kesibukan menjadi IRT itu bukan bo’ongan loh, nyatanya memang terkadang kejenuhan melanda, bukan karena bosan dengan segala aktivitasnya tetapi seorang istri juga ibu itu perlu metime, yah nggak bisa dihilangin begitu saja loh kebiasaan waktu jomblo kalau lagi suntuk ya mau jalan tinggal cus, lagi boring tinggal cus ya maklum belum berbuntut.
Nah pas sudah punya buntut *anak maksudnya, pasti nggak bisa hepi-hepi sendirikan?!??

Kemanapun mesti dibawa, jangankan ketempat makan, mall atau taman ke WC/toilet saja ikut, coba bayangkan upsss jangan deh ntar mual lagi 🙂

Gini yah, seorang lelaki mungkin ia lelah bekerja, penat, serta begitu banyak tekanan dari pekerjaannya. Tetapi mereka hanya berfokus disaat jam kerja dan terbayarkan dengan upah yang diberikan, yah meskipun nanti itu upah dikasih ke istri hehe. Tetapi itu sebuah kebahagiaan yang adil.
Kalau istri, setiap harinya deadline dan kejar-kejaran antara tugas rumahan serta menjaga anak. Nggak terlihat berat memang, tetapi pekerjaan wanita di rumah sedikit-sedikit makin berbukit dan bisa menjelma menjadi gunung. Selalu setiap harinya, apakah ia di gaji, Tidak! Uang yang suami berikan apakah itu gaji tentu bukan. Melainkan amanah yang harus diatur dengan penuh tanggungjawab, mumet kan. 

Jadi hiburan seorang istri adalah anak-anak yang tumbuh sehat, suami yang penuh kasih sayang dan pengertian dan suasana rumah yang rapih bersih dan religius adalah kebahagiaan wanita. Tetapi biarpun itu kebahagiaannya, wanita perlu waktu untuk dirinya sendiri, menikmati kopi kesukaan tanpa dikejar kerjaan dan diganggu oleh anak atau menikmati liburan ke salon mereleksasi diri. 

Wanita pada dasarnya bisa qonaah dengan segala kondisi asalkan sisi ruhiahnya tercarger dengan full, sehingga tidak ada ruang untuk hal-hal yang terlalu bersifat duniawi.

Jadilah Imam, patner yang selalu bisa mencharge full ruhiah istrinya, karena istri terbatas waktunya untuk menuntut ilmu dan hadir dalam majelis maka penuhi ia dengan ilmu, keimanan dan kasih sayang sehingga tak ada celah lagi untuk ia mengeluh tentang dunianya.
240218

Kemayoran, jakarta pusat

0

Rumah sarang penyamun

Istilah apalagi yang cocok untuk lingkungan ini, setiap harinya terjadi sesuatu yang tidak baik. Perkelahian anak dengan ayah, kekerasan dalam rumah tangga, cacian makian, kata-kata kotor, minuman keras, narkoba maupun transaksinya, perjudian pemasangan togel, perselingkuhan, sampai pencabulan dll.
Aduhai…lingkungan macam apa yang saat ini saya tinggali, hampir setiap harinya dangdutan yah kalau nggk mengganggu kuping tetangga noproblem, lah ini parahnya sengaja volume segede soundsystem orang hajatan. Tinggal dijantung Ibukota alih-alih dipermudah segala akses tetapi hancur lebur moral lingkungan nya.
Bukan ingin mengeluh, ini hanya ungkapan hati saya setiap hari yang rasanya sudah ingin berontak lari dari kondisi yang tidak kondusif, ketika orang tidak ikut menggosip berdiam diri dalam rumah itu dianggap sangat tidak pantas. Bukan tidak ingin bergaul lebih jauh, tetapi mrnghindari banyak kemaksiatan itu lebih baik dari pada diri tidak kuat dan terbawa kondisi yang hancur seperti ini.
Anehnya, ketika kita tidak menggosip oranglain justru mereka menganggap salah dirikita, sering kali ungkapan mereka menghujam ke hati,”diamah nggk keluar-keluar rumah, ngerem terus nangkring diatas ya”. Yupsss gue paling nimpalin,”ia biar netes telurnya, makanya dieramin”. Aduhaiiii…lucunya lingkunganku ini. Seumur aku tinggal bersama orangtua, lingkunganku faham dan nggk pernah ada yang bilang begitu. Biasa ajalah mau keluar atau nggk yang penting komunikasi tetap terjalin baik. Toh berlebihan jatuhnya bisa jadi ghibah kan.
Yang nggak tahannya, hampir setiap hari ada saja yang tertangkap polisi entah karena judi, narkoba atau kasus rumah tangga. Ya Robb…lindungilah aku yang masih begitu lemah imannya dengan dihadapkannya lingkungan yang seperti ini, hanya bisa istighfar sesering mungkin, ketika kata-kata kebun binatang dan kotoran itu dengan fasih diucapkan mereka yang muda maupun yang berumur.
Wahai anakku,,,Umma bercita-cita mendidikmu agar menjadi anak yang shalihah, cerdas, juga beruntung dunia akhirat. Maafkan Ayah dan Umma saat ini ya sayang belum bisa menghindari apalagi memperbaiki lingkunganmu, jika Allah Swt mengijinkan suatu saat kami bisa merubah lingkungan ini menjadi lebih baik lagi atau Allah segera mrmberikan tempat dan lingkungan yang islami untuk tumbuh kembangmu kelak. Aamiin
Anakku…lingkungan seperti ini bisa jadi ujian yang Allah berikan kepada keluarga kita agar dapat istiqomah dalam kebaikan, sekalipun berada dalam gubangan orang-orang jahil. Dan semoga dikuatkan imannya dalam berbagai kondisi.

Ya Allah,,,semoga hidayah-Mu menghampiri mereka semua sehingga mereka dapat merasakan betapa nikmatnya dalam islam yang kaffah dan menjalani ketaqwaannya dengan penuh kesadaran. Jauhkanlah kami dari orang-orang yang merusakkan iman kami. Aamii yra

Sebuah rumah yang tidak pernah sepi, karena tepat berada dipertigaan gang tempat mereka berkumpul, singgah, semuanya mereka lakukan dipertigaan gang ini.

14022018

0

Beralih profesi

Terbiasa bekerja dengan mengolah otak dan berdayakan ide, dipacu dengan segala macam bentuk kreatifitas membuat aku terbiasa mengahadapi dunia deadline. Meskipun harus melalui stress tingkat dewa disaat prime date tapi lama kelamaan menjadi sebuah budaya yang melatih otak berfikir lebih keras, lebih efesien, praktis juga kreatif. 
Ah itu sepenggal kisah saat masih menjadi seorang karyawan, meskipun awal semua terasa begitu berat, rat rattt. Tetapi karena waktu yang terlalu sering menjumpainya menjadi hal yang wajib dinikmati.

Dua tahun hampir,,,itu hanya menjadi kisah, cerita, kenang-kenangan kelak. Karena profesiku saat ini telah berganti menjadi fullmom, mengharuskan bekerja 24 jam dengan mengerahkan seluruh tenaga serta fikiran, berat!? Yupss, jujur ini adalah moment pertama yang harus dilalui dengan melalui berbagai, alhamdulillah.
Membanting stir 180° mengharuskan aku menghabiskan hampir dititik nadir energi setiap harinya, untuk belajar. Belajar menjadi istri, belajar menjadi Momy, belajar menjadi bersih-bersih rumah, belajar memasak, dan lain sebagainya.
Ah…buatku yang sipekerja otak, terasa berat awal-awal menjalani profesi baru ini. Tetapi semua proses akan berlalu dan kelak akan memetik hasilnya toh.
Menjadi istri itu ternyata enggak semudah menulis artikel, ternyata banyak hal yang harus dipelajari terutama kesabaran. Ya Allah…ini ujian banget buatku, kalau mencuci-cuci, memasak, mengurus anak dan lainnya perlahan-lahan terbiasa walau letih lemah pekerja rumah wajib beres, karena paling nggk tenang kalau melihat masih ada yang mengangganggu mata atau fikiran.
Dari sekian pekerja rumah yang paling bukan gue banget 🙂 mencuci baju, alamak ini kerjaan kok berat amir yak. Maklum mencucinya masih manual cuy, coba deh nyikat aja udah berapa energi yang keluar terus giles-giles, peres, bilas-bilas, peres rendem pewangi rendem peres baru jemur. MasyaAlloh yah prosesnya lamaaaa dan bikin encok pegel-pegel. Tetapi betapa banyak pahalanya kan, semakin banyak cucian dan tenaga terpakai akan semakin banyak pahalanya.

Nah…itu cuma sebagian kerjaan rumah yang udah cukup nguras tenaga, belum lagi menjaga anak balita. Ini biarpun lelah tetapi so happy, tawa dan keriangan serta ulah anak itu adalah obat segala macam penyakit, yakinnnn. Meskipun setumpuk kerjaan rumah banyak tetapi anak tumbuh sehat wal afiat akan menjadi kebahagiaan sendiri, bener tak??? 

Perihal memasak, aduhaiii ini paling nyerahhhh. Bukan nggk bisa masak, tetapi keterbatasan waktu dan kondisi yang memaksa buat susah memasak. Pengen banget tiap hari masakin suami yang enak-enak dan sehat, apa daya buat makan sendiri pun alakadarnya, instan dan praktis apa aja yang bisa dijumpai. Dan kalaupun sempat masak itu yang amat sangat sederhana, tumis, rebus, cah, bening, goreng telur nugget or sosis dan paling parahnya maem mie instan,,du duuhhh.
Please buat kamuuh para Ibu RT yang single di rumah tanpa khodimah/asisten, tetap bersabar ya. Terkadang hal yang paling memilukan hati adalah sudah susah payah meluangkan waktu memasak, eh tidak ada yang nyoel atau makan gitu. Ehhmm…rasa rasanyaaaa…mending takusah masak yah. 
Karena waktu yang berharga sangat, buat seorang IRT dengan balita yang lagi aktif-aktifnya. Bisa menyempatkan masak itu waar biasa. Please kalau kamu, usahakan dimakan ya kasihan, enak nggaknya mah urusan belakangan tetapi menghargai pengorbanannya itu yang utama. 

Profesi IRT ternyata lebih berat dari seorang karyawan yang sering dikejar deadline, pasalnya kalau waktu jadi karyawan deadlinr itu seminggu dalam sebulan, lah kalau IRT setiap hari deadline coba..hahhaaa…

So I am Happy …because my professi is muliaaa dan ladang pahala, but ngeluh-ngeluh dikitttt wajar donk dan manusiawi kan…maklum sekarangkan masih masa pelatihan sampai entah berapa tahun lamanya hehe…
Buatmu,,,,tersayang…

Sabar sabar ya ngadepin my shalihahmu yang suka badmood, pms, dan Geje gituu…

“Kadang wanita itu memang butuh tempat mengekspresikan perasaannya, apakah senang, marah, kesel, bahagia, sedih. Agar hatinya bisa kembali dan siap menghadapi hal-hal yang lain yang akan terjadi kembali didepannya nanti.,” (Titisankata)
Dki Jakarta

0

Menulis adalah mengingat

Menulis…
Adalah cara seseorang mengekspresikan fikiran, begitu banyak yang tersimpan dalam memori otak akan tetapi sering terlupa. Terutama momen yang membuat kita sedih, jika telah Allah berikan kebahagiaan kita akan lupa. Padahal jika kita mencatatnya dalam tulisan kelak akan menjadi cara kita lebih mensyukuri nikmat-Nya.
Menulis juga menjadi cara kita berbagi kepada yang lainnya, bukan bermaksud untuk pamer atau kesombongan akan tetapi untuk mengambil manfaat serta hikmah dari setiap peristiwa. Karena yang tertulis akan abadi dan terus menjadi pengingat saat diri mulai lalai.
Catatlah terus, apakah harimu bahagia, sedih, sedang beruntung atau sedang merugi. Kelak buka kembali lembaran itu, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kau dustakan, karena setiap kesedihan tidak pernah kekal begitupun kebahagiaan semua akan hadir dalam porsi yang telah Dia sesuaikan dengan kesanggupanmu.
Jadilah yang senantiasa menghisab diri dari amalan yang buruk, untuk meringankan hisabmu dihari akhirat, nanti.